Video #12: Tempus Fugit, Memento Mori

Juni 20, 2018 CRUSADER Network 0 Komentar


Dengan tuntasnya video ALK nomor 11 yang membahas Doa Mazmur Yesus sebagai senjata rohani, dari segi tata cara untuk mempraktekkannya secara umum sudah dijelaskan seluruhnya... Jika anda sungguh-sungguh serius sebagai seorang Laskar Kristus, praktekkan doa tersebut minimal sekali sehari...  

Seperti prajurit yang harus melatih dirinya setiap hari agar siap menghadapi musuh dalam pertempuran, demikian pula setiap Laskar Kristus harus melatih dirinya secara rohani dengan Doa Mazmur Yesus ini agar selalu siap dalam menghadapi peperangan rohani.

Apalagi mulai video ini, kita akan membahas lebih dalam aspek spiritualitas dari Laskar Kristus... Doa Mazmur Yesus akan sangat membantu kita dalam memahami spiritualitas ini dengan lebih baik... Tanpa dibarengi hidup doa, video-video seri ini tidak akan banyak gunanya bagi anda...

Ada sebuah kesalahan yang sebenarnya cukup fatal dan merusak iman banyak orang Kristen... Sebagian orang Kristen beranggapan bahwa percaya Yesus sebagai Tuhan sudah cukup dan akan menjamin kita masuk surga!

Benarkah demikian?

Memang iman pada Kristus adalah jaminan keselamatan, tapi itu bukan tanpa syarat...

Dalam Injil Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Mat.7:21)

Ternyata tidak semua yang beriman dan mengakui Yesus sebagai Tuhan, layak masuk ke dalam surga... Begitulah yang dikatakan Tuhan dalam Injil...

Lalu bagaimana dengan jaminan keselamatan yang kita dapat melalui baptisan kita? Bukankah dalam Injil dikatakan, "Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan" (Mrk.16:16)???

Benar ada tertulis seperti itu, tapi kita tidak bisa mengambil sebuah potongan ayat dan mengabaikan yang lain lalu menyimpulkan sendiri... Semua harus dipahami secara utuh...

Baptisan yang kita terima itu seperti undangan pesta raja sebagaimana yang dikisahkan pada perumpamaan Injil (Mat.22:2-14). Dengan undangan itu kita dijamin bisa ikut masuk ke dalam istana untuk menikmati jamuan pesta yang disediakan. Tapi itu bukan tanpa syarat... Jika kita datang tidak dengan pakaian pesta yang pantas, maka kitapun akan diusir keluar..

Begitulah yang terjadi pada orang Kristen yang sudah menerima baptisan, tapi kemudian tidak hidup menurut kehendak Tuhan. Mereka memang punya undangan untuk masuk ke dalam surga, tapi mereka tidak layak ada di surga. Mereka adalah orang Kristen yang tetap menjalankan hidupnya dengan semangat duniawi dan mengabaikan ajaran Tuhan untuk menjalani hidup rohani...

Untuk mereka inilah perkataan Tuhan dalam Injil menjadi sangat tepat:

"Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Mat.7:24-25)

Tidak ada gunanya kita beriman dan mampu bernubuat atau bahkan membuat mujizat dalam nama Tuhan jika kita tetap hidup dalam semangat duniawi yang penuh dosa dan kejahatan...

Sayangnya harus kita akui banyak sekali orang Kristen yang seperti itu. Mereka beriman dan percaya pada Yesus tapi hidupnya tetap dipenuhi semangat duniawi yang sama buruknya seperti orang yang tidak mengenal Tuhan!

Tempus fugit - carpe diem.. waktu berlalu, raihlah hari ini selagi sempat... begitu prinsip mereka...

Hidup mereka dipenuhi keinginan untuk mencapai kemakmuran dan kebahagiaan di dunia. Kalau mereka berdoa, itu karena mereka berharap melalui doa tersebut kesusahan hidup mereka akan lenyap, pundi-pundi harta mereka akan semakin berlimpah, atau mereka menerima anugerah-anugerah duniawi lainnya. Kemakmuran dan kesuksesan duniawi mereka anggap sebagai tanda berkat Tuhan, sebaliknya penderitaan dan kemiskinan duniawi mereka sangka sebagai kutukan.

Itu bukanlah hidup yang dikehendaki Tuhan!

Lalu apa yang salah dalam hidup orang-orang Kristen yang semacam itu?

Simak apa yang dikatakan Yesus, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku..." (Mat.16:24).

Kesalahan mereka adalah tidak mau menyangkal diri dan memanggul salib... Akibatnya sekalipun mereka beriman, sesungguhnya mereka tidak pernah menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidup mereka... tapi diri mereka sendirilah yang menjadi pusat hidup mereka. Iman mereka sangat dangkal dan rapuh karena dibangun dengan fondasi yang salah... 

Orang memang harus menyangkal dirinya dan memikul salib agar dapat mengikuti Kristus.... Itu kunci penting. Tidak bisa orang mengikuti Yesus tapi tidak mau menyangkal diri dan memikul salib...  Sayangnya penyangkalan diri dan kesediaan memanggul salib bukanlah semangat sebagian besar orang Kristen di jaman sekarang. 

Banyak orang Kristen yang lebih tertarik pada gagasan Yesus yang bangkit dan menang ketimbang Yesus yang menderita dan disalibkan.. Padahal tanpa melalui penderitaan salib tidak ada kebangkitan!

Mereka mengira bisa menggabungkan kedua hal ini: mengikuti Yesus sekaligus hidup dengan semangat duniawi! Itu ilusi yang menyesatkan! Manusia tidak bisa sekaligus memiliki dua tuan karena mereka akan mementingkan yang satu dan mengabaikan yang lain! Jika suatu saat Tuhan mencobai mereka dengan penderitaan dan penganiayaan, dengan mudah mereka akan menyangkal imannya...

Orang Kristen seperti itu jelas tidak layak bagi Tuhan...

Ketika berabad-abad lalu banyak orang Kristen terpanggil untuk berjuang sebagai Laskar Kristus dalam Perang Salib, mereka bagaikan telah menandatangani sebuah kontrak mati... Mereka tidak lagi hidup bagi keinginan duniawi, tapi siap memberikan seluruh hidup mereka bagi Kristus, setiap saat Tuhan menghendakinya.

Karena kematian sudah menjadi kepastian, mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk dapat  menyongsong kematian itu dengan baik. Mereka mengaku dosa, bertobat, dan setiap hari mereka menjalani mati raga dan hidup doa yang tekun agar ketika saatnya kematian menjemput kapan saja dan dimana saja, jiwa mereka dianggap layak bagi Kristus. Hidup mereka di dunia dengan segala keingiannya tidak lagi penting, dan Yesus Kristus sepenuhnya menjadi pusat hidup mereka...

Berbeda dengan banyak orang Kristen jaman sekarang yang hidup bagi dunia, hidup mereka dijiwai semangat ini: tempus fugit, memento mori.. Waktu berlalu, ingatlah pada kematian. 

Mereka yang ingat pada kematian akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya, dengan demikian mereka dapat menjalani kehidupan tanpa rasa takut akan kematian... Sebaliknya mereka yang tidak mengingat kematian, juga tidak mempersiapkannya dengan baik sehingga merekapun takut menghadapi kematian...

Kesadaran untuk mengingat kematian yang dapat menjemput setiap saat itulah yang membuat para prajurit Perang Salib begitu berani dalam setiap pertempuran! 

Ingat pada kematian juga ada dalam kehidupan setiap orang kudus di sepanjang sejarah Gereja. Meski sebagian besar para orang kudus itu tidak menjalani pertempuran fisik, mereka semua tanpa kecuali telah menjalani pertempuran rohani yang jauh lebih berat..dan mereka menang dengan gagah berani! 

Kitab suci menasehatkan demikian:
Dalam segala urusanmu ingatlah akan akhir hidupmu, maka tak pernah engkau akan berdosa.(Sir.7:36)

Kutipan Kitab Suci tersebut menjadi inspirasi bagi banyak orang kudus untuk merenungkan kematian setiap hari. Dan itulah yang membuat hidup mereka suci dan layak bagi Kristus. 

St. Paulus dari Thebes, seorang pertapa pertama yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menyendiri di padang gurun, sering digambarkan dengan sebuah kepala tengkorak di dekatnya. Gambaran itu menunjukkan semangat penyangkalan diri yang sempurna dari St. Paulus. Dengan hidup menyendiri di padang gurun selama puluhan tahun, ia menyangkal sepenuhnya kehidupan duniawi dan mengarahkan seluruh hidupnya pada kehidupan abadi setelah kematian. 

St. Teresia dari Avila, salah seorang mistik terbesar dalam sejarah Gereja, sewaktu kecil seringkali pergi menyendiri ke tempat sunyi dan meyakinkan dirinya untuk memilih diantara dua: mendapatkan kebahagiaan kekal atau penderitaan kekal. Ia memilih yang pertama dan hidup suci sampai akhir hidupnya...

St. Stanislaus Kotska yang hidup murni dengan menyerahkan segala sesuatu dalam hidupnya kepada Tuhan dan menyangkal segala kesenangan duniawi, ketika ditanya mengapa ia begitu fokus hanya memikirkan hal surgawi? Dengan kerendahan hati ia menjawab, "Aku tidak dilahirkan untuk hal-hal duniawi yang ada sekarang, tapi untuk hal-hal yang abadi di masa depan..."

Demikian juga St. Aloysius Gonzaga yang begitu hati-hati dalam setiap pilihan moralnya, ketika mendapatkan godaan dia selalu bertanya pada dirinya, "Apakah gunanya hal itu bagi hidup abadi?" Baginya, "Apapun yang tidak abadi adalah kesia-siaan dan akan berlalu..."

Demikianlah kesadaran pada kematian dan hidup abadi telah menjadi inspirasi bagi hidup banyak orang kudus di masa lalu...

Ingatan pada kematian memang butuh usaha dan mengganggu kenyamanan hidup duniawi kita. Tapi itu harus dilakukan... 

Mereka yang tidak berusaha mengingat kematian akan mudah terjebak pada hidup duniawi yang dangkal dan membuat banyak dosa... Sebaliknya mereka yang ingat akan kematian, sadar akan adanya kehidupan setelah kematian yang abadi dan jauh lebih penting dari kehidupan di dunia ini... Dengan kesadaran itu mereka bisa melihat kehidupan dengan prioritas yang benar dan tidak mudah terjebak dalam kehidupan duniawi yang sementara dan dangkal.... Mereka mencari lebih dahulu Kerajaan Allah dan seluruh kebenarannya, tepat seperti yang dikehendaki Tuhan...

Orang yang mengingat kematian punya karakteristik ini:

Mereka siap meninggalkan kesenangan duniawi yang sementara demi meraih kebahagiaan abadi di surga. Dan mereka lebih suka menanggung penderitaan di dunia yang hanya sementara ketimbang harus menderita selamanya di neraka...

Itu dia...!

Karenanya mereka juga siap menyangkal diri dan menanggung salib untuk mengikuti Kristus. Itulah hidup kristiani yang dikehendaki oleh Tuhan kita.

Lalu apa yang kita renungkan dengan mengingat kematian ini?

Pertama, dengan mengingat kematian kita merenungkan hidup abadi yang akan kita jalani setelah kematian. Sudahkah kita mempersiapkan jiwa kita agar layak untuk masuk ke dalamnya? Sudahkah kita bertobat dari semua dosa kita? Sudahkah kita hidup dalam kebenaran dan kasih sebagaimana yang dituntut Tuhan sebagai buah dari iman kita?

Ingat, kematian dapat merenggut siapapun kapan saja tanpa diduga... sama seperti pencuri yang datang di malam hari. Oleh karenanya dengan mengingat kematian kita diajak untuk mempersiapkan diri dengan menjalani hidup rohani yang kudus setiap saat dalam seluruh hidup kita. Tidak hanya sekali seminggu saat di gereja kita mengingat Tuhan dan memikirkan hal-hal rohani, tapi setiap hari dan setiap saat. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh, begitulah nasehat Rasul Paulus dalam Ef.6:18...

Kedua, ini yang terpenting, hidup abadi yang dijanjikan Tuhan setelah kematian hanya dimungkinkan oleh satu hal ini: kematian Yesus Kristus di kayu salib... Maka kita tidak hanya mengingat hidup abadi setelah kematian kita sendiri, tapi juga kematian Yesus Kristus di kayu salib yang telah membuatnya mungkin. 

Tanpa salib Kristus, semua kematian adalah maut karena dosa... Tapi dengan kematianNya, Yesus Kristus telah menebus dosa kita dan mengubah kematian menjadi gerbang perbatasan yang mengantar kita pada kehidupan abadi bersama Dia. Dalam Injil tertulis demikian, "...hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Surga." (Luk.23:43). Itu yang dikatakan Yesus kepada penjahat yang di salib bersamaNya. Dan itu juga yang akan dikatakanNya kepada kita saat kematian, jika kita juga percaya dan bersedia menanggung salib bersama Dia.

Dengan mengingat kematian kita sendiri, kita mempersiapkan hidup kita di dunia agar jiwa kita layak bagi hidup abadi kelak di surga... Tapi dengan mengingat kematian Kristus, sesungguhnya kita mulai merasakan apa yang akan kita alami secara penuh di dalam surga, yaitu kasih Tuhan yang tak terbatas! 

Ya, kematian Kristus di kayu salib adalah pernyataan kasih Tuhan yang terbesar kepada kita. Kasih Tuhan yang lebih besar dari itu tidak mungkin diterima manusia di dunia ini.. Itu adalah kasih yang sama dengan yang akan kita terima secara penuh di surga dan menjadi sumber kebahagiaan kita dalam hidup abadi.

Sama seperti iblis, orang yang tidak mengenal Tuhan pasti membenci Yesus yang mati tergantung di kayu salib dan mereka menghinaNya dengan keji. Tapi orang Kristen sejati mencintai salib karena di dalamnya terdapat potongan dari apa yang akan kita terima kelak di dalam surga.

Dengan merenungkan penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib sejak kita masih di dunia, berarti kita sudah mulai merasakan dan menerima kasih Tuhan yang sempurna itu sekarang meski belum penuh. Dan jika kita hidup dengan setia dalam kasih itu, kitapun kelak akan menerimanya di surga secara penuh.

Mengapa demikian? 

Karena orang yang sadar dirinya dikasihi Tuhan begitu besar, pasti akan termotivasi untuk hidup sesuai kehendak Tuhan. Itu yang akan membuatnya layak untuk menerima hidup abadi. Dengan demikian renungan pada kematian Kristus di kayu salib adalah sumber kekuatan hidup kita yang terbesar dan sekaligus panduan terbaik dalam mempersiapkan hidup kita untuk menghadapi kematian.

Dengan mengingat kematian kita dan sekaligus merenungkan kematian Kristus di kayu salib, kita akan siap menghadapi kematian kapan saja dan dimana saja. Seperti Rasul Paulus, kita bisa berkata, "Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (1Kor.15:55) 

Sekian dulu video kami kali ini...

0 komentar: